BUTONMAGZ--Pertama kali saya melihat Pulau Buton adalah ketika terbang di atasnya, di ketinggian sekitar seribu meter. Pada pagi yang cerah itu, saya terbang dengan Garuda Indonesia dari Makassar ke Baubau. Ketika kami hampir sampai di tujuan, kapten mengumumkan bahwa para penumpang dapat melihat keindahan Buton dari udara melalui jendela di sisi kanan.
---------
Sebagai sebuah destinasi wisata, sebetulnya Pulau Buton menawarkan berbagai hal yang tidak kalah menarik dari Kepulauan Wakatobi. Fitur geologis keduanya hampir mirip, sama-sama memiliki barisan pantai yang tenang, berbagai titik penyelaman, serta gua-gua dan kolam- kolam alami. Sedikit lebih lengkap, Pulau Buton juga memiliki dataran tinggi di mana kawasan hutan hujan tropis, sungai dan air terjun masih dapat ditemukan.
Sebagai kota terbesar di Pulau Buton, Baubau lebih dikenal sebagai titik persinggahan. Sejak zaman kuno, kota ini menjadi titik penting yang menghubungkan antara kawasan timur dan barat kepulauan Indonesia. Baubau, dengan posisinya yang sangat strategis, adalah pintu bagi para pelaut dan penjelajah sebelum memasuki jazirah Maluku, gugusan pulau di Papua Barat atau Kepulauan Sunda Kecil di selatan.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, Edi Djufri menjemput saya di gerbang kedatangan bandara. Saya segera masuk ke mobilnya dan langsung melesat ke pusat kota. Edi membawa saya ke Pasar Wameo. Ia mempertemukan saya dengan beberapa arsitek dan peneliti dari Bali yang sedang mendokumentasikan berbagai komoditas lokal yang dijual di beberapa pasar tradisional di Kota Baubau.
Ayu Gayatri Kresna, yang mengoordinasi penelitian tersebut, mengatakan masih banyak bahan dan olahan pangan berkualitas tinggi di pasar-pasar tradisional di Baubau. Mereka belum tergusur sepenuhnya oleh komoditas modern. Mulai dari gula aren, berbagai olahan singkong, racikan bumbu, rempah-rempah, sayuran dan buah-buahan lokal. Ayu dan timnya blusukan untuk mendokumentasikan berbagai hal tersebut, termasuk resep makanan dan perkakas masak hasil pengrajin Buton. “Penelitian ini akan kami terbitkan sebagai sebuah buku,” tutur Ayu. Sebelumnya mereka juga pernah menerbitkan buku-buku serupa tentang kekayaan kuliner dan arsitektur Bali.
Bersama Ayu dan timnya, Edi lantas membawa kami ke Benteng Keraton Buton. Pada pukul tiga sore, diadakan upacara haroa di salah satu rumah penduduk. Upacara haroa adalah ungkapan rasa syukur masyarakat Baubau saat memasuki bulan baik dalam kalender Islam. Setiap tahun, upacara ini diadakan beberapa kali, termasuk saat ini diadakan dalam merayakan Maludu atau kelahiran Nabi Muhammad. Upacara ini dipimpin oleh seorang lébé atau imam yang akan membacakan berbagai ayat suci sebagai sebuah pemberkatan. Ruangan dilapisi dengan kain berwarna merah, putih dan hitam yang merupakan warna sakral Kerajaan Buton.
Di sekeliling lébé para pria duduk melingkar dan di tengah mereka tersaji talam-talam berisi makanan. Ibu Etje, sang pemilik rumah, mengatakan bahwa ia menyiapkan 30 buah talam di mana setiap talamnya berisi pisang goreng (loka), ubi goreng (kaowi-owi), onde-onde, bolu gula aren, baruasa, palu, dan waje yang disusun sedemikian rupa menurut adat. Setelah memanjatkan doa, para tamu kemudian menyantap makan siang bersama dengan suguhan sepiring nasi merah, secangkir opor ayam (nasu wolio) dan semangkuk sayur labu air (konduru). Ketiganya merupakan menu wajib saat upacara haroa.
Meski masih umum dirayakan oleh masyarakat Baubau, pelaksanaan haroa dalam bentuk yang ortodoks hanya bertahan di lingkungan dalam Benteng Keraton Buton saja. Benteng ini dulunya merupakan pusat kebudayaan yang menjadi lokomotif peradaban Buton. Di dalamnya terdapat istana kerajaan dan beberapa rumah keluarga terpandang bermarga La Ode dan Wa Ode yang hingga saat ini keturunan mereka masih menempati posisi penting dalam percaturan politik lokal.
Benteng seluas 23,375 hektare ini disebut sebagai benteng terluas di dunia. Strukturnya tersusun dari batuan kapur yang konon direkatkan dengan putih telur. Namun Burhan Basran, seorang sejarawan muda yang saya temui, menawarkan versi lain. Menurutnya, batuan kapur yang menyusun benteng tersebut merekat secara alami karena terkena hujan dan panas selama bertahun-tahun. “Telur hanya digunakan sebagai suplemen oleh para pekerja selama membangun benteng tersebut,” kata Burhan. Jujur saja saya sulit memercayai keduanya. Karena hingga saat ini belum ada pengujian ilmiah yang dapat membenarkan salah satu di antaranya.
Pada sore hari, benteng yang berada di puncak bukit ini menjadi tempat berkumpul favorit remaja Baubau. Dari atas sini pemandangannya sungguh elok. Kita dapat menyapu pandangan hingga pusat kota yang padat dan semarak. Di kejauhan, tampak berbagai kapal hilir mudik melewati celah sempit antara Pulau Buton dan Pulau Muna. Sore itu langit bersih, sehingga saya juga dapat melihat bayangan Gunung Sambapolulu yang terletak di Pulau Kabaena sebagai latar. Matahari mulai lingsir ke barat dan lampu-lampu kota mulai menyala.
Esoknya, dengan sebuah motor sewaan, saya menuju Kampung Karya Baru yang berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Baubau. Beberapa tahun belakangan, kampung yang dihuni oleh masyarakat Ciacia ini menjadi sangat terkenal lantaran mereka mengadaptasi aksara Hangeul sebagai alat komunikasi. Meski aksaranya diimpor, bahasa mereka tetap Ciacia. “Bahasa kami tidak memiliki aksara, hanya lisan saja. Membuat kami kesulitan untuk mewariskan pengetahuan ke generasi di bawah kami. Itu mengapa kemudian kami meminjam aksara dari luar,” ujar Abidin, seorang guru SMA yang memelopori penggunaan aksara Hangeul di kampung Karya Baru.
Saya sempat merasa sangat geli ketika pertama kali memasuki kampung ini dan menemukan aksara Hangeul di berbagai tempat, mulai dari papan jalan hingga gerbang sekolah. Sesaat saya merasa berada di pinggiran Seoul atau Busan namun tanpa nuansa K-Pop. Secara visual ini adalah pengalaman yang cukup unik dan baru bagi saya. Sebagian orang memelesetkan nama kampung ini sebagai “Kampung Korea Baru”.
Masih dengan motor yang sama, saya pun mengunjungi daerah Pasarwajo dan Palabusa. Sepanjang jalur yang saya lewati, jalanan di aspal mulus bahkan hingga desa-desa yang cukup jauh dari jalan raya. Wajar saja karena Pulau Buton adalah penghasil aspal. Di pusat Pasarwajo, lapisan aspal hotmix melapisi jalanan yang lebarnya setara lapangan futsal. Di Palabusa, hingga pelosok desa di pinggir pantai, kualitas jalannya masih lebih baik dibanding wilayah pedesaan di Jawa.
Palabusa adalah sebuah desa kecil penghasil mutiara mabe. Lautnya yang berarus tenang dan terlindungi dianggapsangat ideal sebagai lokasi budidaya kerangmutiara. Di lepas pantai, para petani mutiara membuat rakit-rakit untuk menggantung kerang mereka. Saya menuju ke rakit milik La Izu dengan sebuah jukung kayu kecil.
La Izu adalah orang pertama yang mengembangkan pertanian kerang mutiara skala kecil yang kemudian diikuti oleh rekan-rekan di desanya. Ia menyambut saya dengan ramah dan mempersilakan sayamelihat proses kerjanya yang dibantu dengan alat-alat sederhana. Siang itu La Izu sedang sibuk mengikat senar di bibir cangkang-cangkang kerang yang baru dipasangi nukleus. Ia menyiapkan dua ribu ekor kerang untuk musim tanam kali ini. Kerang-kerang itu kemudian dimasukkan ke dalam keranjang-keranjang kawat yang digantung di bawah air. “Empat bulan lagi saya panen,” katanya sambil terkekeh.
Melihat kerang-kerang tersebut, saya mulaiberimajinasi bahwa sebagai sebuah destinasiBaubau serupa sebutir mutiara yangterselimuti cangkang. Menunggu untuk ditemukan. Tak lama lagi.** (Sendy Aditya dari majalah udara Colour-Garuda)